Perempuan-perempuan baru Jawa Timur | Liputan 24 Jawa Timur
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Perempuan-perempuan baru Jawa Timur

Posted by On 4:52 PM

Perempuan-perempuan baru Jawa Timur

Sejumlah tamu silih berganti menyambangi kediaman Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Rabu (27/6/2018) sore. Dengan senyum menjulang dan keramahan Khofifah menyambut dan menyalami tamu yang hadir.

Keesokan harinya tamu-tamu kembali menyambangi kediaman mantan Menteri Sosial itu. Mata Khofifah terlihat sembab. Namun ia tetap menerima tamu-tamu yang memberi ucapan selamat itu. Soto ayam disuguhkan untuk para tamu-tamu itu. "Ini soto ayam langganan saya. Sudah 11 tahun," ujarnya kepada para tamunya yang dari pelbagai kalangan itu.

Khofifah tampak haru. Ini pertarungan ketiga Khofifah memperebutkan kursi Jawa Timur 1. Pada dua pertarungan sebelumya, ia selalu kalah dengan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Khofifah bersama empat perempuan lain tercatat berhasil memenangi Pilkada serentak 2018 yang digelar di 19 daerah di Jawa Timur. Kemenangan empat perempuan ini menambah daftar perempuan lai n yang memimpin daerah di Jatim.

Lalu apa maknanya kemenangan sejumlah perempuan ini? Benarkah pemilih perempuan lebih menjatuhkan pilihannya ke sesama perempuan? Belum ada data resmi yang bisa menyebut itu memang. Menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, dari beberapa survei yang dilakukan para pemilih perempuan tidak otomatis akan memilih kaumnya.

Ia mencontohkan saat Khofifah ikut Pilkada Jatim 2008 dan 2013. Jika pemilih perempuan memang menjatuhkan pilihannya ke calon perempuan seharusnya Khofifah menang pada dua kali pertarungan itu. “Perempuan juga bisa ke mana-mana,” katanya kepada Beritagar.id, Kamis (5/7/2018).

Terpilihnya sejumlah perempuan itu, menurut peneliti lembaga survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo, karena pemilih tak lagi membedakan gender. Mereka, kata dia, lebih melihat pada kepribadian, karakter, dan isu yang diusung calon. “Gender bukanlah pertimbangan utamanya,” katanya.

Pertimbangan lain, menurut Ku nto, bisa jadi pemilih berharap pemimpin perempuan mengedepankan kesantunan dalam menjalankan kepemimpinannya. Santun, bukan berarti lemah tapi bagaimana memberi rasa hormat dan gampang berempati. Ia mencontohkan Risma. “Dia tegas dan punya rasa empati,” ujarnya.

Kelebihan lain pemimpin perempuan, menurut peneliti Litbang Kompas, Endang Suprapti, adalah konsistensi. Biasanya, perempuan yang memimpin itu konsisten. Konsistensi itu penting untuk menjalankan visi dan misinya. “Mereka biasanya punya ritme kerja yang jelas,” ujarnya.

Benarkah? Mungkin Risma bisa menjadi contoh bagaimana mantan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya ini mewujudkan mimpinya menata Kota Surabaya dan melayani warganya.

***

Pilkada serentak 2018 di Jawa Timur melahirkan pemimpin baru perempuan. Dari 19 kepala daerah yang melaksanakan Pilkada, lima di antarany adalah perempuan. Namun dari lima itu hanya tiga yang benar-benar pendatang baru. Pendatang baru yang kami maksud adalah mereka benar-benar baru mencalonkan dan menang. Dua sisanya sudah pernah menjabat atau petahana yang kembali mencalonkan pada Pilkada serentak tahun ini.

Dengan terpilihnya lima perempuan itu kini ada 10 perempuan yang berkibar. Siapa saja mereka? Inilah profilnya.

Kepala daerah perempuan di Jawa Timur.
Kepala daerah perempuan di Jawa Timur. | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Khofifah Indar Parawansa (calon gubernur Jawa Timur, 2018-2023)

Calon gubernur Jawa Timur periode 2018-2023 yang mengusung program nawa bhakti satya (sembilan janji kerja untuk berbakti ke Jatim agar mulia)

ini berhasil memenangi perebutan kursi Jatim 1 mengalahkan musuh “abadinya” Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga survei maupun hitungan riil KPU.

Dari hitungan riil KPU Jawa Timur per 30 Juni 2018, Khofifah (53) yang berpasangan dengan Emil Dardak mengantongi mengantongi 9.883.978 suara (53,73 persen). Sedangkan lawannya, Gus Ipul-Puti meraup 8.510.790 suara (46,27 persen). Dengan kemenangan ini berarti Khofifah tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin Jawa Timur.

Pasangan Khofifah-Emil Dardak diusung Partai Demokrat, Golkar, Nasdem, PPP, Hanura, dan PAN. Sedangkan Gus Ipul-Puti diusung PKB, PDI Perjuangan, PKS, dan Gerindra.

Ini merupakan pertarungan ketiga bagi Ketua Umum Muslimat NU ini. Pada dua pertarungan sebelumnya (2008 dan 2013), Khofifah selalu kalah bertarung melawan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Namun meski dua kali kalah Khofifah yang saat mau mengikuti pertarungan ketiga menjabat Menteri Sosial tak kapok. Tentang kerelaannya menanggalkan jabatannya sebagai menteri Kho fifah punya alasan.

“Hari ini kalau saya ingin menikmati jabatan, sekaranglah saya harus menikmati karena saya sudah menjadi menteri, namun ini semua demi perjuangan kehormatan,"ujar Khofifah seperti dikutip BBC Indonesia, di hadapan ribuan Jemaah Muslimat NU pada acara Istigasah Kubro di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (04/11/2017).

Ika Puspitasari (calon wali kota Mojokerto, 2018-2023)

Diikuti empat pasang calon, pasangan nomor urut 4, Ika Puspitasari-Achmad Rizal Zakariah terpilih menjadi calon wali kota Mojokerto. Dari hasil pleno KPU Kota Mojokerto, Kamis (5/7/2018), Ita berhasil meraup suara terbanyak yakni 23.644 suara.

Adik kandung Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa ini diusung Partai Golkar dan Gerindra.

Anna Muawanah (calon bupati Bojonegoro, 2018-2023)

Hasil rekapitulasi KPU Bojonegoro menetapkan pasangan Anna-Budi sebagai pemenang dalam pilkada Bojonegoro. Berdasarkan rekapitulasi KPU, pasang an yang diusung PKB, PDI Perjuangan, dan PKPI ini mendapat 236.358 suara.

Pasangan ini mengalahkan dua calon lainnya: Soehadi-Mitroatin yang diusung Partai Demokrat dan Golkar (195.489 suara) dan Basuki-Pudji (187.380) yang diusung PPP dan Gerindra.

Anna (50) merupakan anggota DPR tiga periode dari Partai Kebangkitan Bangsa. Sedangkan Budi adalah politikus PDI Perjuangan dan menjadi Wakil Ketua DPRD Bojonegoro selama dua kali periode.

Puput Tantriana (calon bupati Probolinggo, 2018-2023)

Puput dan Timbul Prihanjoko merupakan pasangan petahana yang kembali maju pada Pilkada serentak kali ini. Berdasar hitung cepat, pasangan yang diusung Partai Nasdem, PDI-P, PPP, Gerindra dan Golkar berhasil meraup 56,32 persen suara mengalahkan pasangan Abdul Malik Haramain-Muzayyan Badri yang meraup 41,41 persen suara.

Puput (35) merupakan istri Hasan Aminuddin yang sebelumnya juga menjabat sebagai bupati Probolinggo dua periode (2003-2013). Kini Puput pun mewarisi jalan dua periode seperti yang ditinggalkan suaminya yang kini menjadi menjadi anggota DPR asal Partai Nasdem.

Mundjidah Wahab (calon bupati Jombang, 2018-2023)

Mundjidah (70) sudah malang melintang di dunia politik. Karier politiknya dimulai sejak 1971 hingga 1992. Pada periode itu ia tercatat menjadi anggota DPRD Jombang asal PPP. Pada 1997-2014, ia juga tercatat menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari PPP.

Setelah kenyang berkiprah di legislatif, anak dari salah satu pendidi NU, KH Abdul Wahab Hasbullah ini menjajal berkiprah di jalur eksekutif pada Pilkada 2013. Saat itu ia didapuk menjadi calon wakil Bupati Jombang, berpasangan dengan Nyono Suharli Wihandoko.

Kini pada Pilkada serentak 2018, Ketua Muslimat NU Jombang ini menggandeng Sumrambah maju menjadi salah satu calon Bupati Jombang. Berdasarkan pleno KPU Jombang, pasangan yang diusung koalisi Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Gerindra, dan Perindo ini berhasil memenangi pemili han dengan mengantongi 308.536 suara.

Dewanti Rumpoko (Wali Kota Batu, 2017-2022)

Ia menjabat wali kota menggantikan suaminya, Eddy Rumpoko. Berpasangan dengan Punjul Santoso yang diajukan PDI Perjuangan, pasangan ini berhasil meraup 44,57 persen (51.754 suara).

Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya, 2015-2020)

Saat ini Risma menjabat wali kota Surabaya untuk periode kedua. Pada periode kedua, Risma (57) menggandeng kader PDI Perjuangan Wisnu Sakti Buana. Pada pemilihan itu Risma menang telak dengan meraup 893.087 suara atau 86,34 persen.

Memimpin Surabaya, Risma memang benar-benar kerja keras. Ia terlihat kerap turun langsung ke lapangan. Ia menata daerah dan melayani warganya. Tak heran sejuta prestasi ia raih baik dalam negeri maupun luar negeri.

Faida (Bupati Jember, 2015-2020)

Diusung PDI Perjuangan, Nasdem, Hanura, dan PAN, pasangan Faida-Abdul Muqit Arief berhasil memenangi pertarungan melawan pasangan Sugiarto-Mochammad Dwi Korya nto yang diusung Partai Gerindra, PKB, PKS, Golkar, PPP, dan Demokrat.

Nama Faida (50) memang sudah dikenal di Jember. Sebelum terjun ke politik, ia adalah seorang dokter. Tak hanya menerapkan ilmu kedokterannya, ia juga terjun mengelola rumah sakit milik ayahnya di Banyuwangi. Sampai akhirnya ia juga mendirikan dan mengelola rumah sakit Bina Sehat Jember. Posisi terakhirnya adalah Direktur Utama.

Haryanti (Bupati Kediri, 2015-2020)

Ia menjadi pengganti suaminya, Sutrisno yang telah menjabat sebagai bupati Kediri dua periode 2000-2010. Selesai suaminya menjabat, Haryanti yang merupakan istri tua Sutrisno ikut bertarung dalam pemilihan bupati pada 2010. Menariknya, pemilihan Bupati Kediri ini juga diikuti istri muda Sutrisno, Nurlaila. Sayangnya, sang istri muda kalah dengan istri tuanya.

Haryanti (69) yang berlatar belakang dokter ini berhasil memenangi kontestasi ini. Setelah periode jabatan pertamanya selesai, ia kembali maju pada 2015. Lagi-lagi ia men gantongi kemenangan.

Rukmini Buchori (Wali Kota Probolinggo, 2014-2019)

Ia menjabat wali kota Probolinggo menggantikan posisi suaminya, M. Buchori yang menjabat dua periode (2004-2014). Pada Pilkada 2013, Rukmini (61) berpasangan dengan Suhadak dan berhasil meraih suara 38,6 persen.

Sayang, saat akan mengikuti Pilkada untuk kedua kalinya, ia tak mendapat rekomendasi dari partai asalnya, PDI Perjuangan.

Sumber: Berita Jawa Timur

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »